Museum Fatahillah Jadi Destinasi Edukasi Favorit, Kunjungan Capai 3.500 Orang Saat Akhir Pekan

HomeUncategorized

Museum Fatahillah Jadi Destinasi Edukasi Favorit, Kunjungan Capai 3.500 Orang Saat Akhir Pekan

Jakarta, faktaonenews.com

Museum Sejarah Jakarta atau yang lebih dikenal sebagai Museum Fatahillah terus menjadi salah satu destinasi wisata edukasi unggulan di kawasan Kota Tua. Hal tersebut disampaikan oleh pemandu museum, Slamet Rusbandi yang akrab disapa Bandi, saat ditemui tim Media Fakta.

“Iya, di sini saya sebagai pemandu Museum Sejarah Jakarta atau yang lebih dikenal sebagai Museum Fatahillah,” ujar Bandi.

Ia menjelaskan, pengelolaan museum berada di bawah Museum Kesejarahan Jakarta yang membawahi empat museum, yakni Museum Sejarah Jakarta, Museum MH Thamrin, Museum Joang 45, dan Museum Prasasti. “Untuk jumlah karyawan secara keseluruhan dari empat museum itu kurang lebih hampir 100 orang. Ada ASN, PJLP, dan juga PPPK, namun yang dominan ASN,” jelasnya.

Terkait koleksi, Museum Fatahillah memiliki sekitar 900 koleksi, baik yang dipamerkan maupun yang belum. Koleksi tersebut mencakup berbagai peninggalan bersejarah, mulai dari furnitur abad ke-17 hingga ke-19, lukisan, hingga bangunan museum itu sendiri yang merupakan cagar budaya.

“Yang paling ikonik di sini adalah penjara bawah tanah. Banyak pengunjung datang ke sini pasti menanyakan di mana letak penjara, karena memang secara sejarah gedung ini dulu digunakan sebagai balai kota dan pengadilan pada masa VOC di Batavia,” ungkapnya.

Dari sisi kunjungan, Museum Fatahillah mencatat perbedaan signifikan antara hari kerja dan akhir pekan. “Kalau weekday sekitar 1.000 sampai 2.000 pengunjung per hari, sedangkan weekend bisa mencapai 3.000 sampai 3.500 pengunjung,” kata Bandi.

Ia menambahkan, mayoritas pengunjung adalah wisatawan lokal, meskipun turis mancanegara juga kerap datang, terutama dari Belanda dan beberapa negara Eropa lainnya. “Kalau turis asing ada juga, seperti dari Belanda dan Prancis, tapi tetap lebih banyak pengunjung lokal,” ujarnya.

Untuk tarif masuk, museum menetapkan harga tiket yang terjangkau. “Untuk dewasa weekday Rp10.000, weekend Rp15.000. Pelajar Rp5.000, dan jika rombongan lebih dari 30 orang bisa dapat diskon menjadi Rp3.700 per orang,” jelasnya.

Sementara itu, layanan pemandu tidak dipatok tarif tertentu. “Kalau untuk pemanduan itu sifatnya sukarela, tergantung kebijakan pengunjung, tidak ada tarif khusus,” tambahnya.

Dalam memberikan edukasi, pendekatan yang digunakan juga disesuaikan dengan usia pengunjung. Untuk anak-anak, terutama tingkat TK, metode yang digunakan lebih kepada pengenalan dan permainan. “Kalau anak TK, kita tidak terlalu fokus ke sejarah berat, tapi lebih ke pengenalan dan nilai-nilai, seperti kasih sayang dan kebijaksanaan,” jelas Bandi.

Museum Fatahillah juga berupaya mengubah stigma masyarakat yang menganggap museum sebagai tempat yang membosankan atau menyeramkan. “Dulu image museum itu membosankan dan seram. Sekarang kita ubah, museum itu harus jadi tempat edukasi, wisata, dan riset,” tegasnya.

Seiring perkembangan zaman, museum juga mulai beradaptasi dengan teknologi digital untuk menarik minat generasi muda. Selain itu, berbagai kegiatan kebudayaan turut direncanakan untuk digelar di kawasan Kota Tua sebagai daya tarik tambahan.

Dalam hal perawatan koleksi, pihak museum bekerja sama dengan Balai Konservasi untuk penanganan khusus. “Kalau perawatan harian ya dibersihkan biasa, tapi untuk yang khusus ada tenaga profesional dari balai konservasi,” jelasnya.

Tak hanya itu, museum juga mendukung produk lokal melalui penjualan merchandise hasil karya UMKM yang difasilitasi oleh Dekranasda. Produk tersebut mengangkat budaya Betawi sebagai identitas lokal Jakarta.

Ke depan, pihak museum berharap dapat terus meningkatkan pelayanan dan daya tarik melalui digitalisasi serta penguatan kegiatan budaya. “Harapannya, museum bisa terus berkembang dan menjadi pusat edukasi serta wisata yang menarik bagi masyarakat,” tutup Bandi.

(NW/RLR/YA/ARP)