Jakarta, Faktaonenews.com –
Taman Margasatwa Ragunan terus melakukan berbagai upaya pembenahan dan peningkatan pelayanan guna mempertahankan kualitas sebagai salah satu destinasi wisata edukasi unggulan di ibu kota. Hal tersebut disampaikan oleh pihak pengelola dalam wawancara bersama tim wartawan Faktaonenews.com saat melakukan peliputan langsung di kawasan Taman Margasatwa Ragunan.

Pihak pengelola menegaskan bahwa tempat ini secara resmi bernama Taman Margasatwa Ragunan, bukan sekadar kebun binatang. Penamaan tersebut memiliki makna tersendiri, yakni sebagai kawasan konservasi satwa yang tertata serta dikelola dengan baik.
Saat ini, Taman Margasatwa Ragunan dipimpin oleh drh. Endah Rumyati, M.Si.M., selaku Kepala Unit Pengelola. Dalam menjalankan operasionalnya, Ragunan didukung oleh total 694 personel, yang terdiri dari 113 ASN dan 581 PJLP.
Dari sisi tarif, Ragunan masih menjadi salah satu destinasi wisata dengan harga terjangkau. Tiket masuk untuk pengunjung dewasa dipatok sebesar Rp4.000, sementara untuk anak-anak sebesar Rp3.000, baik pada hari kerja maupun akhir pekan.
Untuk sistem pembelian tiket, pengelola telah menerapkan electronic ticketing, yakni menggunakan kartu elektronik yang dapat diisi saldo di loket pintu masuk. Selain itu, tersedia pula mesin pembelian tiket barcode di area masuk dengan metode pembayaran non-tunai atau QRIS.
Jumlah pengunjung Ragunan mengalami fluktuasi sesuai hari kunjungan. Pada hari kerja, rata-rata tercatat sekitar 3.000 pengunjung per hari, meningkat menjadi 15.000 pengunjung pada Sabtu dan 20.000 pengunjung pada Minggu. Saat libur panjang, jumlah tersebut dapat melonjak hingga 40.000–50.000 pengunjung, bahkan pada libur Lebaran 2026 mencapai 80.000 pengunjung.
Sementara itu, rekor kunjungan tertinggi sepanjang sejarah Ragunan terjadi pada tahun 2015, dengan total 203.000 pengunjung dalam satu hari.
Dari segi operasional, Ragunan buka setiap hari dengan jam layanan berbeda antara hari kerja dan akhir pekan. Pada weekdays, taman dibuka mulai pukul 07.00 hingga 16.00 WIB, sedangkan pada weekend mulai pukul 06.00 hingga 16.00 WIB.
Tak hanya itu, kini Ragunan juga menghadirkan layanan kunjungan malam. Untuk hari kerja, operasional malam berlangsung pukul 17.00–22.00 WIB, sementara pada akhir pekan dibuka pukul 18.00–21.00 WIB.
Taman Margasatwa Ragunan menampung berbagai jenis satwa langka, baik asli Indonesia maupun dari luar negeri. Beberapa satwa unggulan yang menjadi daya tarik pengunjung di antaranya gorila, harimau Sumatra, hingga berbagai satwa buas seperti singa. Namun, pihak pengelola menjelaskan bahwa jumlah satwa seperti singa tidak terlalu banyak karena bukan satwa asli Indonesia.
Dalam menjaga kesehatan satwa, pihak pengelola menerapkan monitoring harian terhadap seluruh hewan. Setiap perubahan perilaku satwa akan langsung diamati oleh petugas lapangan dan dilaporkan kepada tim medis.
Apabila ditemukan gejala tidak normal, dokter hewan akan melakukan pemeriksaan klinis melalui pengambilan sampel darah maupun feses untuk diuji di laboratorium. Jika terdeteksi infeksi atau penyakit tertentu, satwa akan segera menjalani perawatan intensif.
Untuk kebutuhan pakan satwa, pengelola mengungkapkan bahwa biaya operasional yang dibutuhkan cukup besar. Sebagai contoh, seekor harimau dapat mengonsumsi hingga 5 kilogram daging dalam sekali makan.
Pemberian makan satwa umumnya dilakukan pada sore hari. Hal ini diterapkan agar satwa tetap aktif keluar kandang pada siang hari sehingga dapat terlihat oleh para pengunjung.
Sementara itu, terkait upaya menjaga citra dan kemajuan institusi, Humas Taman Margasatwa Ragunan, Wahyudi Bambang, menegaskan bahwa tugas utamanya adalah menjaga reputasi Ragunan di ruang publik.
“Tugas saya adalah menjaga nama baik Taman Margasatwa Ragunan ini, meng-cover berita-berita yang tidak sesuai dengan fakta di lapangan, dan meluruskan hal yang mesti diluruskan di media sosial,” ujar Wahyudi Bambang.
Melalui berbagai pembenahan tersebut, Taman Margasatwa Ragunan terus berkomitmen meningkatkan kualitas pelayanan, konservasi satwa, serta kenyamanan pengunjung demi mempertahankan eksistensinya sebagai destinasi wisata edukasi favorit masyarakat.
Penulis : AAP/EAR/KO/ZS
