Jakarta, faktaonenews.com –
Pemerintah Kota Jakarta Utara menekankan pentingnya menjaga fungsi jalur protokol agar tetap berjalan normal saat banjir rob melanda wilayah pesisir, yang diperkirakan terjadi pada April 2026 berdasarkan prakiraan BMKG.
Wakil Wali Kota Jakarta Utara, Fredy Setiawan, meminta agar seluruh akses utama tidak terganggu meskipun terjadi pasang air laut maupun curah hujan tinggi.
“Kami meminta agar jalur-jalur protokol harus tetap berfungsi optimal saat terjadi pasang air laut maupun banjir akibat hujan lebat,” jelas Fredy Setiawan di Jakarta, Kamis.
Menurut dia, jalur utama memiliki peran vital dalam mendukung mobilitas masyarakat serta aktivitas ekonomi, sehingga tidak boleh terhambat oleh genangan air.
“Ia menegaskan bahwa akses jalan utama tidak boleh terganggu akibat genangan air akibat banjir rob atau hujan deras di daerah setempat.”
“Antisipasi jalur protokol sangat penting. Jangan sampai akses utama lumpuh karena tergenang,” ucap Fredy.
Untuk itu, ia menginstruksikan jajaran terkait agar memastikan langkah pencegahan berjalan maksimal, termasuk membersihkan saluran air dari berbagai hambatan yang berpotensi memicu penyumbatan.
“Jajaran kelurahan dan kecamatan untuk aktif membongkar hambatan di saluran air yang berpotensi menyebabkan penyumbatan,” ujarnya.
Langkah ini dinilai krusial guna memperlancar aliran air saat terjadi peningkatan debit, sehingga dampak banjir terhadap masyarakat dapat ditekan seminimal mungkin, baik dari sisi sosial maupun ekonomi.
“Mari kita kesiapsiagaan menghadapi kondisi cuaca ekstrem,” jelasnya dia.
Selain itu, Fredy juga meminta seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait untuk mempercepat koordinasi dan sinkronisasi data kebencanaan, serta melakukan aksi nyata di lapangan.
Ia juga berencana meninjau langsung kesiapan penanganan banjir pada 30 hingga 31 Maret 2026 di sejumlah titik rawan.
“Segera jadwalkan kunjungan untuk melihat langsung aksi pencegahan mulai dari kesiapan perahu karet hingga progres pengerjaan tanggul mitigasi dan pembersihan saluran, seperti di wilayah RE Martadinata, Penjaringan, hingga Muara Karang,” jelasnya.
Sementara itu, Suku Dinas Sumber Daya Air (SDA) Jakarta Utara telah mengidentifikasi sejumlah wilayah yang berpotensi terdampak banjir rob.
Kepala Seksi Pemeliharaan Drainase SDA Jakarta Utara, Yudo Widiatmoko, menyampaikan bahwa berbagai langkah antisipasi telah disiapkan untuk menghadapi potensi tersebut.
“Untuk mengantisipasi potensi rob tersebut telah disiapkan berbagai langkah strategis,” tutur Yudo Widiatmoko di Jakarta, Kamis.
Upaya tersebut meliputi pembangunan dan peninggian tanggul, pengerukan lumpur di aliran sungai, pemasangan tanggul darurat di titik-titik rawan, hingga pengoperasian pompa air.
Selain itu, pihaknya juga menyiagakan 150 personel Pasukan Biru, 20 unit pompa apung, 16 unit pompa mobile, serta delapan stasiun pompa lengkap dengan operator guna mempercepat penanganan genangan saat banjir terjadi.
Ketika wartawan Media Fakta melakukan investigasi dan telah menemui seorang warga yang bernama Budi, ia menyambut baik langkah Pemerintah Kota Jakarta Utara dalam mengantisipasi banjir rob, khususnya upaya menjaga jalur protokol tetap berfungsi.
“Dengan adanya petugas yang siaga dan saluran air yang dibersihkan, kami jadi lebih tenang. Semoga ke depan banjirnya bisa lebih cepat surut,” jelasnya.
Budi juga berharap upaya yang dilakukan pemerintah dapat terus ditingkatkan agar dampak banjir rob semakin berkurang dan masyarakat tetap bisa menjalankan aktivitas sehari-hari dengan nyaman.
KO/ZS
